Kurang lebih dalam 10 tahun terakhir, Centers for Disease Control and Prevention (CDC) Amerika Serikat mencatat peningkatan kasus sipilis pada kaum pria. Sekitar 60% kasus sipilis ini terjadi pada pria yang aktif secara seksual, baik dengan lawan maupun sesama jenis. Yuk, simak artikel berikut ini untuk mengetahui, apakah sebenarnya itu sipilis dan apa bahaya dari sipilis.

Seperti apa gejala sipilis?
Sipilis merupakan salah satu penyakit infeksi menular seksual. Bakteri penyebab sipilis, Treponema pallidum ditularkan melalui kontak seksual dan dapat ditularkan secara vertical, dari ibu yang mengandung ke janin yang dikandungnya. Pada penularan vertikal sipilis dapat terjadi risiko kelahiran prematur dan bayi lahir dengan berat badan lahir rendah.
Tidak didapatkan gejala yang cukup berbeda pada wanita atau pria yang terinfeksi sipilis. Namun, sipilis lebih sering ditemukan pada pria dibandingkan wanita. Keunikan dari sipilis adalah penyakit ini dibagi menjadi beberapa fase sesuai gejala yang dialami penderitanya yang diuraikan seperti di bawah ini.
- Sipilis primer. Pada tahap ini terjadi luka di titik penularan seperti di daerah penis, vagina, anus, dan bibir. Luka ini berbentuk melingkar dan tidak menimbulkan rasa nyeri.
- Sipilis sekunder. Pada tahap ini luka yang awalnya tidak terasa nyeri menjadi semakin parah. Dapat ditemukan ruam pada kulit, pembengkakan kelenjar getah bening, rambut rontok, nyeri kepala, berat badan turun, dan demam. Namun, pada beberapa orang dapat mengalami sipilis sekunder dengan gejala yang lebih ringan.
- Sipilis laten. Pada tahap sipilis laten tidak ditemukan gejala yang khas dari infeksi sipilis. Oleh karena itu sipilis laten sering tidak disadari oleh penderitanya dan disebut sebagai hidden stage. Sipilis laten dapat bertahan selama beberapa tahun jika tidak diobati.
- Sipilis tertier. Pada tahap ini sudah terjadi komplikasi dari sipilis. Beberapa komplikasi dapat terjadi dan menyerang organ jantung, otak, dan organ tubuh lain.
Apakah sipilis dapat dicegah atau disembuhkan? Tentunya dengan tidak melakukan hubungan seksual, tidak berganti pasangan, tidak bergantian menggunakan alat bantu seks, dan menggunakan pengaman dapat mencegah penularan sifilis. Untungnya, sifilis dapat disembuhkan dengan pemberian antibiotik. Pemeriksaan laboratorium perlu dilakukan untuk memastikan sifilis benar-benar hilang setelah pemberian antibiotik.
